Book

Di Tanah Lada: kehidupan dari sudut pandang anak 6 tahun

Yang lebih penting dari bertutur kata baik adalah bertutur kata dengan tepat

Di Tanah Lada

Semoga ulasan buku kali ini bisa ditulis dengan tepat ya sesuai dengan kutipan di atas.

Di Tanah Lada adalah buku ke-2 yang saya selesaikan di awal tahun ini, tapi jadi yang pertama diulas soalnya bikin perasaan saya jadi ga karu-karuan. Ada yang sudah baca? Gimana perasaannya setelah baca buku ini?

Saya baca buku elektronik Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di aplikasi iJak. Durasi bacanya sekitar semingguan, karena bacanya sedikit-sedikit. Alhamdulillahnya sih selesai, ga masuk daftar buku ga habis dibaca wkwk.

Baca juga: Baca buku elektronik di aplikasi iPusnas

Sinopsis

Namanya Salva. Panggilannya Ava.
Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal.
Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa inggris.
Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Tampilan sampul depan buku elektronik Di Tanah Lada (iJak)

Di Tanah Lada mengisahkan tentang anak perempuan berusia 6 tahun yang lahir dalam keluarga tidak harmonis, bernama Ava. Sosok anak perempuan yang berusaha memahami kehidupan beserta orang dewasa di dalamnya. Salah satu anak yang percaya bahwa semua ayah itu jahat.

Kisahnya dimulai ketika kakek Kia meninggal dan keluarga Ava pindah ke Rusun Nero, yang pada akhirnya bertemu dengan P (nama asli guys ini, cuma sehuruf). Ava dan P memiliki perbedaan usia 4 tahun. Singkat cerita mereka berdua memiliki kesamaan yaitu hidup dalam keluarga tidak harmonis yang penuh dengan kekerasan dan merasa tidak diinginkan sebagai anak.

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama yaitu Ava. Kadang saya bingung menempatkan diri sebagai pembaca. Terkadang Ava terasa sangat kekanak-kanakan tapi dilain cerita Ava terasa seperti orang dewasa.

Walaupun menggunakan sudut pandang Ava terkadang ada bagian cerita yang membuat Ava dipaksa menyelami pemikiran karakter lain. Itu yang saya ga dapet feel anak-anak waktu baca buku ini. Kayaknya lebih baik kalau cerita ini menggunakan sudut pandang orang ketiga, biar lebih konsisten penggambarannya.

Karakter Ava seakan ditulis sebagai anak kecil yang cerdas karena bisa mengingat banyak istilah di kamus tapi sewajarnya anak kecil Ava tidak sepenuhnya memahami kata-kata itu sendiri. Ava yang mampu berbahasa Indonesia yang baik sampai orang dewasa geleng-geleng kepala karena tutur katanya terlampau baik. Bahkan dia bilang ‘nggak’ aja dengan kata ‘tidak.’

Walaupun terdengar ga masuk akal tapi memang ada anak-anak jenius di luar sana. Bahkan saya tahu anak yang mampu menjawab perkalian sederhana secara cepat padahal usianya masih 5 tahun.

Tapi yang saya ga habis pikir kenapa anak usia 6 seperti Ava sudah mampu memaknai hidup dan bisa mengeluarkan kata-kata romantis ketika sedang berbicara dengan P. Apalagi di bagian ending, definisi bahagia menurut mereka berdua bikin saya geleng-geleng. Ya, namanya juga cerita fiksi ya terserah penulisnya.

Karakter lain selain Ava dan P dalam buku ini adalah Mama, Papa, Kak Suri, Mas Alri, dan beberapa karakter pendukung lainnya yang cukup mempengaruhi sudut pandang Ava. Dari semua karakter saya paling suka Mas Alri, mungkin karena karakternya kuat dari awal sampai akhir jadi orang paling berjasa. Walaupun di akhir cerita malah menyebalkan.

Konflik pada buku ini juga cukup buat saya gelisah karena termasuk berat walaupun diceritakan dalam bahasa sederhana. Tentunya gaya berbahasa anak-anak si Ava ini, tapi entah apakah memang di dunia nyata anak-anak tidak mempermasalahkan sesuatu hal seperti orang dewasa karena mereka punya cara untuk mengalihkan pikiran mereka.

Tidak ada yang bisa tahu apa yang kamu rasakan – sayang atau tidak – kalau kamu tidak mengatakan, atau menunjukkannya dengan benar

Kutipan di atas membuat saya terenyuh. Kutipan ini diucapkan oleh anak-anak yang membenarkan perbuatan kasar orangtua mereka karena mereka meyakini kalau Papa mereka masih memiliki rasa sayang. Tapi mereka tidak bisa mengungkapkannya dengan benar.

Benar-benar tipe anak kecil yang polos dan lugu. Saya jadi sedih.

Kalau orang lain baca karya Ziggy kali ini banyak yang sedih sampai meneteskan air mata. Tapi kalau saya setelah membaca buku ini perasaannya campur aduk, rasanya mau marah dan kecewa sekali. Bukan marah karena ceritanya buruk atau bukunya tidak sesuai ekspektasi saya.

Aku menangis karena orang dewasa tidak mengerti apa-apa

Ava, Di Tanah Lada (h.92)

Saya marah karena pada kenyataannya orang dewasa memang ga mengerti apa-apa. Terkadang orang dewasa ga bisa menempatkan dirinya di hadapan anak-anak dan itu memang benar. Kenyataannya banyak anak-anak di luar sana yang ‘dipaksa’ menjadi dewasa dan harus memahami segala hal seperti Ava.

Saya marah karena akhir cerita yang ga saya kira dan juga terasa ditampar realita. Ga paham kenapa Ziggy bisa terpikir mengakhiri cerita Di Tanah Lada dengan segelap itu untuk ukuran sebuah cerita dengan karakter anak-anak.

Sebelum masuk ke bagian penutup yang saya sudah kira sebelumnya bikin saya mematikan ponsel karena kesal. Ending yang menyebalkan, menyayat hati dari sudut pandang orang dewasa. Bagaimana bisa anak umur 6 dan 10 memutuskan sebuah nasib besar untuk diri mereka sendiri? Aaaargh rasanya saya kesal. Mau mu apa sih Ziggy?

Ada beberapa hal yang saya bisa simpulkan dari novel ini dan kebetulan memang sudah saya yakini. Salah satunya walaupun anak kecil tidak mengerti apa yang terjadi di rumah, tapi mereka bisa merasakan perbedaan antara hal baik dan buruk.

Orang pertama yang akan terluka karena permasalahan rumah tangga adalah anak.

Maka dari itu kita harus bijak bersikap di depan anak-anak. Saya sempat berpikir apa saya pernah merasakan menjadi Ava yang sibuk berteori tentang kehidupan saat umur 6 tahun?

Dia (Mama) cuma perlu waktu untuk belajar jadi Mama. Nggak apa-apa. Ada orang yang sayang anak, tapi mereka nggak ingat kalau mereka punya tanggung jawab. Mereka bisa belajar. Mama kamu masih bisa belajar.

Mas Alri, Di Tanah Lada (h.199)

Ketika nanti menikah dan menjadi orangtua harus siap untuk belajar. Karena menjadi orangtua itu belajarnya seumur hidup. Bahkan ga berhenti sampai anak-anak sudah tumbuh dewasa. Semakin anak tumbuh, kami orang dewasa pun perlu tumbuh.

Karena keputusan punya anak itu merupakan hal besar, bukan punya anak karena iseng ya semuanya. Jangan sampai kejadian Ava dan P dialami oleh kita semua.

See you~~ di blog post selanjutnya.

Bibliografi
Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Jumlah halaman: 244 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *