Trip

Pengalaman Pertama One Day Trip ke Pulau Pari

Jangan pikir 2 kali untuk merencanakan liburan. Just Do It!

Halo! Saya datang lagi dengan cerita seru (ga cuma curhat belaka).

Setelah penasaran untuk ikut open trip, akhirnya kemarin saya merasakan juga nih ikut trip bersama kelompok yang pesertanya ga saya kenal sama sekali. Saya ga merasa kerepotan untuk memilih operator trip karena memang sudah kepoin si operator ini sejak lama.

Jadi, pada postingan ini saya akan menceritakan pengalaman pertama saya One Day Trip ke Pulau Pari. Tentunya ini pengalaman pertama saya mengunjungi salah satu pulau di Kepulauan Seribu ini, gimana sih rasanya ikut open trip, waktu tempuh, dan bagaimana keseruan yang saya alami.

Saya menggunakan jasa open trip dari @maukemanasi. Semoga bisa menjadi referensi untuk kalian.

Pengalaman One Day Trip ke Pulau Pari

Pada awalnya saya lagi ngincer banget trip ke salah satu lokasi wisata di ujung paling barat Pulau Jawa. Setelah tanya sana-sini kok kejauhan untuk pemula dan akhirnya untuk first trial saya ikut yang dekat dulu aja.

Keinginan untuk ikut open trip ini impulsif banget karena saya pusing banget dengan rutinitas padahal situasi sedang ga bagus (November musim hujan). Saya book H-3 hari sebelum keberangkatan. Ga punya persiapan apa-apa untuk ke pantai, yang ada modal niat dan tekad yang kuat.

Hal pertama yang saya pastikan ke penyedia jasa open trip adalah biaya, cara menuju titik kumpul, dan apakah setiap peserta mendapat life jacket atau tidak.

Hari Keberangkatan ke Pulau Pari

Titik kumpul pemberangkatan trip ke Pulau Pari ini melalui Dermaga Muara Kamal. Kalau dilihat lebih lanjut dermaga ini tempat untuk pemberhentian kapal dan perahu nelayan. So, sudah jelas ya kapal yang digunakan kali ini adalah perahu nelayan.

Lokasi ini tidak bisa dijangkau dengan mobil karena lokasi yang berdekatan dengan pasar ikan. Bahkan ojek motor aja sempat kena macet. Btw, ikannya besar-besar dan segar banget disini.

Sayang saya ga sempat foto dermaga.

Pasar Ikan Muara Kamal

Pukul 06.45 adalah waktu berkumpul kami. Namun, pada kenyataannya saya baru bisa sampai pukul 07.00 dan masih ada 2 orang kelompok peserta yang terlambat.

Kapal berangkat pukul 08.30, agak sedikit terlambat dari rundown yang telah dipersiapkan operator. Perjalanan dari Dermaga Muara Kamal menuju ke Pulau Pari ditempuh selama 2-3 jam dengan menggunakan kapal nelayan, tergantung cuaca dan kecepatan angin.

Setelah 3 jam terombang-ambing di laut akhirnya pukul 11.10 kapal kami berlabuh di Dermaga Pulau Pari. Jika menggunakan kapal feri sepertinya akan lebih cepat lagi waktu tempuhnya. Tentunya ga sampai kebasahan karena cipratan air laut yang langsung ke badan.

Pemandangan Dermaga Pulau Pari dari kejauhan

Mendekati pulau warna airnya lebih jernih dan hijau, cakep banget parah. Maaf ya norak hahaha.

Kapal nelayan yang kami gunakan saat berlabuh di Pulau Pari

Agak ga nyangka sih naik kapal macam gini, kirain agak lebih besar dan tertutup. Kalian terbayang ga gimana deg-degannya naik kapal nelayan ini selama 3 jam? Kebetulan pada saat kami berangkat angin sedang kencang-kencangnya. Yah, namanya juga pengalaman pertama ya.

Sebisa mungkin sebelum berangkat usahakan sarapan dulu ya, biar ga masuk angin. Teman satu kapal saya ada beberapa yang tumbang karena mabuk laut.

Menuju Destinasi Selanjutnya Pantai Pasir Perawan

Kegiatan yang bisa dilakukan jika menggunakan open trip ini ada dua yaitu snorkeling dan eksplor pantai. Namun, karena saat itu kuota snorkeling tidak terpenuhi maka kegiatan tersebut dibatalkan. Banyak yang membatalkan karena melihat angin yang cukup kencang dan kondisi kesehatan.

Destinasi yang kami tuju selanjutnya adalah Pantai Pasir Perawan. Kami perlu berjalan kurang lebih 15 menit ke arah timur Pulau Pari untuk sampai ke Pantai Pasir Perawan. Pantai ini berada di sisi timur Pulau Pari. Cukup kaget sih ternyata pasirnya putih, airnya tenang dan super jernih. The real vitaminsea.

Bersyukur banget hari itu cuaca cerah, jadi bisa main kesana-kemari. Pemandangan dan pantainya jempolan banget.

Pantai Pasir Perawan

Biaya retribusi memasuki pantai sebesar Rp 5000, tapi kami tidak perlu membayar lagi karena sudah dibayar sepaket di awal. Setelah sampai, kami dibebaskan untuk melakukan kegiatan sampai waktu yang ditentukan.

Terserah kalian mau berenang, mau berfoto, atau mau menjelajah pulau. Kalau saya sih berfoto aja mengabadikan momen.

Kalau kami sih makan siang dulu, kebetulan trip kami menyediakan makan siang. Lumayan banget isi perut setelah diterpa angin bertubi-tubi.

Pantai Pasir Perawan

Seneng banget ketika sampai ternyata pantai ga begitu ramai jadi bisa menikmati sejenak keindahan pantai. Sayang sih saya ga sempet menyeberang ke pulau-pulau kecilnya karena saat itu air sedang pasang dan saya lagi berhalangan huhuhu. Sedih… besok kalau kesana lagi mau bawa baju renang.

Pantai Pasir Perawan

Berjalan agak ke sisi timur pantai ternyata ada hutan mangrove dan anginnya kencang banget. Kerudung saya sampe copot, padahal suasananya enak banget ada ayunan dan hammock. Cocok banget buat santai nikmatin pantai.

Kalau mau jelajah hutan mangrove juga bisa kok dengan sewa kapal lagi. Banyak penduduk lokal yang menawarkan, tapi saya ga ingat sih harganya berapa.

Berayun sejenak melepas beban kehidupan haha
Cekrek cekrek di keindahan pantai yang biru dan jernih

Sebenarnya jika menggunakan jasa operator atau tour akan mendapat fasilitas dokumentasi dengan menggunakan mirrorless milik si tour guide. Saya sempat 2x minta fotoin lumayan kan biar kece wkwk.

Kalau kalian pergi sendirian sepertinya oke juga nih kalo mau foto-foto bisa minta tolong si tour guidenya.

Fasilitas umum untuk melepas dahaga dan beribadah

Walaupun kami sudah makan siang, tapi kenyataannya angin pantai membuat kami tetap lapar. Disekitar pantai ini banyak warung milik penduduk yang menyediakan minuman instan dan kelapa muda.

Ada beberapa yang menyediakan makan juga harganya cukup bervariasi. Tinggal tanya-tanya dulu.

Buat kalian yang pengabdi colokan sama seperti saya dan ga punya powerbank ga perlu panik. Aliran listrik ada kok di setiap warung dan gratis. Asal tahu diri ya setidaknya beli lah sesuatu di warung itu.

Salah satu warung di Pantai Pasir Perawan

Setelah berenang tentunya perlu kan untuk membilas badan dengan air bersih. Di Pantai Pasir Perawan ini banyak disediakan toilet umum, bahkan menurut saya di dekat pantai cukup nyaman toiletnya. Walaupun tidak mewah ya.

Beribadah juga tidak perlu khawatir karena terdapat fasilitas mushala yang cukup baik.

Mushala Nurul Falah @Pasir Perawan Pulau Pari

Kembali Pulang ke Dermaga Muara Kamal

Setelah selesai menghabiskan waktu di pantai tibalah saatnya kami berpisah. Pukul 15.00 kami sudah siap di Dermaga Pulau Pari. Namun, karena cuaca saat itu sedang angin kencang maka kami diminta untuk menunggu.

Konon kalau angin terus kencang, kapal-kapal tidak diperbolehkan untuk berangkat. Solusinya kami harus menunggu sampai pukul 16.00 dan jika tidak kunjung reda anginnya maka kami harus menginap di pulau. Tentunya dengan tambahan biaya lagi.

Hati ini udah siap untuk cuti daripada harus terombang-ambing di laut. Apalagi melihat kapal kami yang seperti itu. Petugas setempat menyampaikan agar kami berdoa untuk turun hujan. Jika hujan maka kapal diperbolehkan berangkat.

Alhamdulillah hujan turun sebelum pukul 4 sore jadi kami bisa berangkat menuju Dermaga Muara Kamal. Tapi saat perjalanan pulang ini hampir setengah peserta trip pindah kapal.

Mereka memutuskan pulang menggunakan kapal feri yang lebih cepat dan lebih nyaman. Ternyata naik kapal nelayan saat pulang cukup mendebarkan karena ombak sedang besar dan hujan. Combo rasa khawatirnya.

Ga sempet foto-foto perjalanan pulang soalnya hujan dan banyak berdoa untuk keselamatan. Alhamdulillah kapal kami mendarat di Dermaga Muara Kamal sekitar pukul 6 sore. Perjalanan pulang lebih cepat daripada saat berangkat.

Kesan Pertama Mengikuti Open Trip

Sejujurnya saya seneng sih ikut open trip karena tinggal duduk manis dan ada yang ngatur jalannya kegiatan. Cocok banget buat yang pengen jalan-jalan atau sekedar short escape tapi gamau ribet hahaha.

Apalagi untuk traveller pemula yang belum kenal medan, join open trip bisa jadi solusi yang tepat.

Bakalan banyak ketemu temen baru, kemarin saya sempet kenal sama sepasang suami istri yang ketinggalan trip jadi join ke trip kami. Tapi, karena saya orangnya ga mengusahakan diri untuk akrab ke orang lain jadi ga kenal banyak orang. Soalnya saya simpan tenaga takut kecapekan eh mabok wkkw.

Next, saya mau ikut trip ke tempat yang lebih jauh lagi dan sendirian. Semoga tercapai aamiin.

Biaya dan Itinerary di Pulau Pari

Biaya
Rp149.000 per orang (biaya sudah termasuk tiket PP, makan siang, tiket masuk pulau dan pantai, tour guide, dokumentasi)
Tambah Rp50.000 jika ingin snorkeling

Meeting Point
Dermaga Muara Kamal

Itinerary
-06.45 : Berkumpul di Meeting point
-10.30: Tiba Di Pulau Pari (faktanya kami sampai pukul 11.10)
Dan Kita Lanjut Menuju Pantai Pasir Perawan
-10.30: Langsung snorkling bagi yang ingin snorkeling
-12.00: Makan Siang (makan lebih cepat pukul 11.30)
-16.00: Selesai di Pantai Pasir Perawan dan Perjalanan Pulang
-18.00 : Perkiraan sampai di Jakarta (kami sampai Jakarta pukul 6 lewat)

Semoga bermanfaat. Yuk ceritakan pengalaman kalian ikut open trip di kolom komentar.

Bonus foto narsis kami

4 Comments

  • Aqmarina - The Spice To My Travel

    Hi mbak Lona salam kenal 🙂

    Waa pulau Pari! Aku jadi keinget kalau dulu pernah kesana dan belum nulis blogpost tentang pulau itu haha.. jadi flashback sewaktu kesana walaupun dulu kesananya udah lama banget.. bertahun-tahun yang lalu (hehe lebay haha sekitar 5 tahun yang lalu)

    Wah tapi masih hampir sama kalau aku lihat dari foto-foto mbak Lona. Monumen unik pantainya juga masi ada haha! Yang paling aku inget sewaktu liburan ke sana itu pas snorkeling, kerena perahu yang kita pakai mati kehabisan bbm.. jadi ditempat snorkelingan sampe 3 jam gosong haha

    • ahalona

      Halo Kak Aqmarina! Thx banget udah mampir, blog kamu keren banget sering travelling hahaha aku baru coba2 nulis ttg travel. Wah serius masih sama? Berarti pantai ini emang dijaga banget ya ga banyak perubahan. Ya ampun kak pengalaman yg gabisa dilupain banget ya 3 jam snorkeling sampe capek tuh pasti hahaha.

      Aku juga ada kejadian nih terkait kapal, pas perjalanan pulang di tengah laut kapalnya bermasalah sempet ngadat sampe bau bensin. Rasanya berdoa terus di perjalanan hahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *