Patung ikonik museum nasional
Life,  Trip

Jakarta one day trip : Museum Nasional

Kalau punya hari libur cuma Minggu enaknya kemana ya? Kalau saya sih sesekali ke Jakarta tapi sebelumnya cari tau dulu ada acara seru apa yang sedang berlangsung, atau tempat apa yang bisa menghilangkan penat dalam sehari.

Kemudian, ini sekilas cerita jalan-jalan ke museum nasional…

Jadi, niat awal ke museum nasional karena ingin menonton pertunjukan dongeng di Festival Dongeng Internasional 2019. Setelah berusaha ajak temen akhirnya jadi juga kesana. Kalau dipikir-pikir terakhir ke Museum Nasional itu waktu sekolah dasar, sering disebutnya dulu Museum Gajah.

Sekitar pukul sepuluh kami sudah sampai di pelataran Museum Nasional, wah ternyata ramai juga ya yang datang mengunjungi museum. Ternyata eh ternyata ga hanya acara festival dongeng, disana juga sedang berlangsung pameran ASOI (Asal-usul Orang Indonesia). Double-double senengnya.

Setelah membeli tiket masuk di loket, nantinya kita akan diarahkan untuk mengisi data diri secara manual dan menitipkan tas karena tidak diperbolehkan membawa tas saat masuk ke ruangan museum.

tiket masuk & leaflet museum nasional
Tiket masuk & Leaflet

Selain tiket masuk, kita juga diberikan leaflet yang berisi jam operasional, penjelasan singkat mengenai beberapa koleksi, petunjuk area museum, dan tata tertib pengunjung.

Festival Dongeng Internasional 2019

Hal pertama yang kami lakukan adalah menonton dongeng. Festival Dongeng International Indonesia 2019 ini diinisiasi oleh Ayo Dongeng Indonesia!.

Seru banget ngeliat para pendongeng yang penuh ekspresi. Ternyata penonton anak-anaknya banyak juga, ga nyangka kirain akan sepi.

Ini kedua kalinya mendengarkan dongeng secara langsung, kagum banget deh kalau melihat mereka jadi pengen jadi pendongeng hahaha. Ekspresi dan mimik saat bercerita itu bener-bener totalitas banget.

Baca juga : Kegiatan mendengarkan dongeng di CineCharity 2019

Deepa Kiran dari India

Setelah lihat Deepa ini saya jadi tahu mendongeng ga melulu menggunakan gitar dan boneka tangan, semua alat musik bisa (apasih lon). Disini kami ga lama, hanya mendengarkan 3 dongeng dari pendongeng yang berbeda salah satunya dari India.

Setelah keliling melihat area lain festival dongeng, akhirnya kami memutuskan untuk muterin museum.

Pameran ASOI (Asal-usul Orang Indonesia)

Sebelumnya saya tahu ada pameran ASOI, hanya saya ga tau kalau itu diselenggarakan di museum nasional. Jadi, cukup senang tanpa rencana malah mendapatkan banyak pengalaman di museum nasional ini.

Pameran ASOI diadakan oleh Historia, disini kami melihat bagaimana perkembangan fase manusia dari jaman Homo Erectus Tipik hingga ke jaman Homo Sapiens.

Selain peradaban dan teknologi, ternyata bentuk tengkorak kepala pun berevolusi. Wah menarik banget, alasannya apa ya. Kami berpikir mungkin karena alas kepala yang digunakan dari jaman ke jaman berbeda wkwk.

Hayo bentuk kaki kamu yang mana nih?
Salah satu alat yang digunakan pada zaman purba.

Hal menarik disini adalah informasi DNA dari 16 responden yang memiliki latar belakang yang berbeda. Najwa Shihab memiliki keragaman ras yang sangat banyak, dibanding responden yang lain. Kalau saya dites DNA juga, pasti hanya memiliki sejarah 4 ras umum yaitu East Asian, Asian Dispersed, South Asian, dan Middle Eastern.

Kebetulan saat tulisan ini dikeluarkan adalah hari terakhir pameran ASOI diselenggarakan.

Museum Nasional

Akhirnya hal terakhir yang kami lakukan itu berkeliling di museum nasional. Museum nasional terdiri dari 4 bagian yang dipisahkan dari kategori koleksinya yaitu :

  • Lantai 1 : Manusia dan lingkungan
  • Lantai 2 : Ilmu pengetahuan dan ekonomi
  • Lantai 3 : Organisasi sosial dan pola pemukiman
  • Lantai 4 : Khasanah Emas dan keramik
  • Halaman dalam tempat arca-arca (taman arca)

Kami hanya mengunjungi taman arca dan lantai 4, soalnya mau liat barang-barang berkilauan hahaha. Ga tau ya waktu keliling museum ini agak buru-buru karena kami harus menyesuaikan waktu untuk kegiatan berikutnya yang tak direncanakan yaitu mencoba naik MRT. Soalnya teman saya penasaran banget. Oke skip abaikan.

Oiya, di beberapa koleksi sudah disediakan QRcode cukup scan kemudian akan muncul penjelasan dari koleksi tersebut.

Waktu kami kesana, sepertinya taman arca sedang direnovasi seperti pengecatan ulang dan ada beberapa arca yang dipisahkan karena sedang perawatan. Disini kami melihat banyak arca peninggalan masa kerajaan.

Taman arca museum nasional

Kalau melihat koleksi di area ini banyak banget pertanyaan muncul dan terkagum-kagum dengan kemampuan masyarakat pada masa itu bisa menghasilkan karya sesulit itu.

Disini ada beberapa arca yang sama dengan jumlah lebih dari satu, seperti arca Siva dan Durga contohnya. Kalau dilihat dengan mata orang awam ornamen arca tersebut ga persis sama, tapi kenapa bisa dikenali dengan baik ya. Walaupun memang mereka pasti punya karakteristik utama, tapi kayaknya ga gampang apalagi kalau arca yang ditemukan beberapa bagiannya hilang atau rusak. Hebat ya para arkeolog.

Patung Bhairawa di Museum nasinal. Patung tertinggi.
Patung Bhairawa, setinggi 414 centimeter

Selain patung arca sosok di masa Hindu-Buddha, disini juga ada beberapa arca yang digunakan untuk aksesoris pada jamannya dan atau memiliki fungsi lain.

Ingat, kalau ke area ini jangan menyentuh koleksi ya.

Tujuan selanjutnya ke bagian dalam museum. Sempat foto instragamable di lantai 1 karena terinspirasi sama anak-anak hits jkt. wkwkwk.

museum nasional indonesia

Lantai 1 ini kami cuma lewat aja, ga begitu memperhatikan isinya bagaimana. Cuma sempet lihat kuburan manusia pra-sejarah, kalau kayak gini kayaknya diambil se-tanah-tanahnya gak sih?.

Begitu sampai di bagian emas dan keramik kami senang banget. Produk yang dipakai oleh masyarakat pada jaman itu mewah dan penuh nilai seni banget. Sayang di area ini dilarang untuk mengambil gambar.

Pada bagian keramik diisi peninggalan dari era dinasti yang sempat berdagang ke Indonesia, ga kebayang harganya berapa. Kalau dilihat dari bentuk sih pada jaman sekarang masih ada barang-barang yang digunakan dari segi bentuk ga jauh berbeda.

Di bagian emas tambah heran lagi, pada masa kerajaan jaman dulu kayaknya mudah mendapatkan emas untuk aksesoris pakaian atau sekedar alat makan.

Lalu, bentuk emasnya gede-gede banget bahkan untuk sebuah kalung aja besar banget. Kalau kalian sering lihat tarian tradisional ada beberapa kostum yang menggunakan kalung. Nah, kalungnya kayak gitu, Antingnya gede banget juga. Wah wah…

Area emas ini luas banget, banyak banget koleksinya. Oiya bahkan jaman dulu keris pun bertabur emas, diukir dengan emas. Ga kebayang masyarakat kelas atas pada jaman dulu gimana cara dapetin dan buatnya dengan sangat rapi dan detil. Bangga banget!

Ternyata lumayan melelahkan juga ya muter-muter di area museum nasional. Walaupun gitu, ternyata cukup seru mengenal sejarah. Mengunjungi museum nasional bisa menjadi salah satu alternatif jalan-jalan singkat selain ke mall. Yuk jalan-jalan ke museum!

“sehebat apapun dunia dan perkembangannya, kita tidak boleh lupa sejarah

Lokasi :
Museum Nasional Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No. 12 Jakarta 
(naik Transjakarta turun halte monas) 

Jam Operasional
Senin : Libur
Selasa - Kamis : 08.00 - 16.00
Jumat : 08.00 - 16.30
Sabtu - Minggu : 08.00 - 17.00

Harga Tiket Masuk :
Rp5.000

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!