Random Talk

Ramadan yang berbeda, tapi sama sih

Happy June!

Selamat lebaran semuanya, walaupun agak basi karena sudah lewat 2 minggu. Akhirnya bisa nulis lagi dan kali ini berkaitan dengan sesuatu yang ‘berbeda tapi sama’.

Semenjak Covid-19 mewabah di negeri kita tercinta, semua kegiatan berubah. Biasanya bisa melakukan aktivitas di luar rumah sekarang harus dilakukan #dirumahaja. Baik sekolah, perusahaan, bidang jasa, pariwisata, dan banyak hal tidak bisa beroperasi sebagaimana mestinya.

Saya sendiri mulai berdiam diri di rumah sejak akhir Maret. Kalau kalian dari sejak kapan? Alhamdulillah mulai Juni sudah kembali masuk bekerja dari kantor. Semoga semua ini cepat selesai dan tidak ada lagi pasien positif yang bertambah.

Harusnya postingan ini keluar saat hari lebaran tapi malah baru bisa sekarang hehehe ga apa deh buat dikenang. Jadi, selama bulan ramadan tentunya semua full di rumah. Beribadah jadi jauh lebih mudah walau tidak lepas dari perasaan khawatir.

Memang menurut beberapa orang ramadan kali ini berbeda, contoh sederhana tidak bisa mengadakan buka bersama, tidak bisa ngabuburit sekedar cari takjil. Paling utamanya tidak bisa melaksanakan shalat tarawih yang mempererat hubungan antar tetangga.

Memang ada sedikit perasaan kecewa dalam hati, tapi berkumpul dengan keluarga jadi obatnya. Coba bayangkan kapan terakhir kali kita berkumpul dengan keluarga selama 24 jam penuh setiap hari? Sesuatu yang mahal untuk keluarga masa kini yang dituntuk aktif dan melakukan kegiatan serba cepat di luar.

Biasanya ramadan itu identik jadwal buka bersama yang padat merayap, teman kerja, teman kuliah, SMA, TK atau perkumpulan yang lain. Keluarga dinomor sekiankan. Ya gak? Kalau kalian bukan bagian ini berarti kalian keren banget.

Ramadan tahun ini pokoknya penuh kekhawatiran dan keprihatinan. Rasanya menampilkan sesuatu yang mewah saat seperti ini jadi merasa tidak peduli sekitar karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Begitupun saat hari lebaran, tidak ada kemewahan seperti kumpul bersama keluarga besar karena larangan mudik.

Saat hari lebaran, banyak banget di media sosial yang merasa sedih karena tidak bisa berkumpul bersama keluarga besarnya. Merasa lebaran sangat sepi dan berjalan sebentar. Kumpul keluarga dilakukan secara virtual melalui berbagai aplikasi online.

Kalau saya sih merasa sama saja tidak merasa sedih sedemikian rupa. Malah senang karena saat lebaran tetangga ramai seperti hari biasanya (tentunya sesuai protokol kesehatan). Bertahun-tahun kami selalu jadi penjaga kampung karena tidak pernah mudik.

Biasanya tetangga kami perantau yang lain H-7 lebaran sudah mudik. Super duper sepi lingkungan ini. Setiap tahun lebaran keluarga kami itu cuma sehari, bahkan hitungan menit karena saudara dan tetangga mudik. Ya gimana ga hitungan menit, kampungnya kecil dan penduduk pribumi juga sedikit ya cuma halal bihalal ke 7 rumah tanpa duduk.

Biasanya setelah shalat eid dan keliling, balik ke rumah langsung ganti baju tidur. Persis seperti postingan temen-temen online kemarin.

Lebaran beneran (duduk rame-rame) ala keluarga kami dimulai saat para tetangga dan saudara sudah kembali dari kampung halaman masing-masing hahahah.

Kalau orang lain merasa berbeda karena sepi dan berjarak tapi kalau kami merasa ramai walau tetap sepi. Tetap ramadan yang beda bukan? Beda versi maksudnya. WKWK.

Sempet jadi bahan obrolan juga di rumah.

“Orang lain sedih karena lebarannya sepi, kalo kita sih emang selalu sepi tiap tahun” – anak
“Iya kalau udah biasa ramai pasti sedih, beda sama kita” – bapak
“Malah kita yang bingung kok lebaran disini (rumah) jadi rame karena ga pada mudik” – anak

“Dulu bapak juga sedih gabisa mudik, bukan karena ga bisa kayak sekarang tapi karena ga punya uang. Siapa yang ga sedih coba…” – bapak (mulai melow)
Kita sudahi aja percakapannya daripada sedih hahaha.

Sudah sudah… saya cuma mau cerita itu aja. Semoga kondisi ini cepat usai dan bisa beraktivitas seperti sedia kala tanpa cemas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *