Random Talk

Seorang pencerita

Pernah ga menunggu-nunggu kehadiran seseorang karena cerita yang ia bawakan mengandung magnet?

Pernah ada suatu masa saya bingung kenapa orang lain bisa punya cerita yang seru dalam hidupnya. Selalu pulang dengan membawa banyak cerita yang menarik.

Bahkan walaupun hanya perjalanan ke warung saja bisa menemukan cerita yang bisa ia bagikan. Bukan gosip melainkan hal unik yang bisa ia temukan.

Saya punya seorang teman yang suka sekali bercerita. Waktu itu kami masih menjadi mahasiswa tingkat 2. Kebetulan teman saya ini berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Ketika pulang kuliah, ia selalu menceritakan banyak hal kepada saya.

Contohnya, ketika ia bertemu temannya, ada kawan jurusan lain yang enak dipandang, pedagang cilok yang beda dari biasanya, atau hanya sekedar membeli jus yang terdengar sangat menarik.

Sebagai orang yang hidupnya acuh, ga akan terpikir untuk saya melihat sekitar dan menemukan hal menarik untuk dibicarakan. Itu merupakan sesuatu yang ga penting.

Tapi siapa sangka hal yang saat itu terasa tidak penting dan seperti basa-basi merupakan hal yang paling ditunggu. Tanpa sadar ‘kami’ menunggu cerita yang keluar dari dirinya. Seakan jadi sebuah pengetahuan hahahaha.

Sampai sekarang saya masih menjadi pencerita yang buruk, kalau waktu bisa diulang, saya akan lebih mendengarkan cerita dia dengan baik dan seksama. Saya akan bertanya bagaimana menjadi pencerita yang menyenangkan.

Pernah ada masa saya tidak bercerita sama sekali, saya merasa apa yang terjadi di sekitar saya tidak menarik dan orang lain tidak ingin tahu. Ternyata hal ini yang buat orang-orang mengira saya tertutup (padahal sih memang iya).

Saya ga tahu bagaimana memulai cerita. Saya ga bisa membuat orang tertarik walaupun itu hal yang sangat seru bagi saya. Jadi, ya saya diam saja hahaha.

Pernah saya menjadi pencerita yang menjengkelkan, saya hanya bercerita mengenai hal buruk yang saya rasakan. Padahal itu ga buruk-buruk banget emang dasar lebay. Saya sadar itu ga baik, akhirnya saya berhenti untuk mulai bergantung pada orang lain. Semakin saya dekat dengan orang lain akan banyak cerita sedih yang saya ceritakan. Terlalu membebani. Terima kasih kamu yang sudah mendengarkan saat itu…

Pernah saya menjadi seorang yang sangat cerewet, malah saya dikatain ga bisa move on dari kenangan masa lalu. Alasannya karena saya hanya menceritakan hal yang sudah berlalu. Lah lalu saya harus menceritakan apa? Masa depan? Ya mana saya tahu.

Apa yang bisa diharapkan dari anak kemarin sore yang pengalamannya belum banyak? Memang benar jadi diam dan ga menceritakan apapun itu keputusan terbijak bagi saya saat itu.

Waktu berlalu…

Ternyata orang seperti teman saya itu banyak populasinya hahah. Ketika saya menjadi seorang pegawai baru, ada seorang pegawai yang mengajak saya bercerita.

Padahal baru bertemu beberapa jam ia sudah menceritakan kehidupannya, batin saya merasa ‘ini orang terbuka sekali’. Bisa-bisanya ada orang macam ini. Mudah sekali percaya dengan orang lain hahahaha…

Mungkin saya ga akan punya teman kalau saya ga bertemu dia. Sama seperti pengalaman sebelumnya apa yang dia ceritakan sangat menarik walaupun itu hanya sekedar kejadian jatuh dari motor.

Satu hal yang saya pelajari, selama ini saya ga bisa menjadi pencerita yang baik karena terlalu berpikir untuk menjadi menarik dan mengabaikan ketulusan. Mereka yang saya ceritakan sebelumnya sangat apa adanya dan menceritakan semuanya dengan mengalir aja gitu. Mana kepikiran mereka lawan bicara suka atau ga suka.

Saya terlalu sibuk berpikir respon mereka akan suka atau tidak ya. Salah itu semua salah.

Kalian para pencerita yang baik, kalian berapa di tempat yang tepat. Semoga kalian tetap sehat dan terus bercerita kepada orang seperti saya yang selalu menunggu cerita kalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *