Book

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah

tentereng!!! Ahalona muncul lagi nih setelah berbulan-bulan ga posting apapun (padahal dulu niatnya satu bulan sekali posting) wkwk. Sebenernya udah ada 4 draft yang ditulis tapi gapernah selesai dari mulai review, tutorial, pengalaman ataupun curhatan. Yah, balik lagi apadaya sepertinya tingkat M (males, mager, mending tidur, mending nonton drama, dan mending-mending yang lain) lebih mendominasi pikiran jadi deh melompong bak toples diakhir bulan hehehe.

Sekarang aku mau nulis review tentang buku Tere Liye “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah” yang udah dibeli dari Desember tapi baru nyampe sebulan kemudian. Ini efek beli buku euforia harbolnas di Gramedia.com. Lumayan bok, diskon 50% kapan lagi dapet buku bagus dan baru lagi dengan sekitar 500 halaman cuma 47.500.

Sebenernya waktu ada harbolnas itu aku gapunya bayangan buku apa yang mau dibaca ataupun dibeli. Ya, beli buku cuma karena tergiur harga murah (kapan-lagi-gitu) dan udah mulai berfikir ini otak harus dikasih makan untaian kata-kata-lembut biar kalo diajak ngobrol atau nulis blog ga bingung milik diksi yang tepat.

Akhirnya beli deh buku KASAM (dari: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah), soalnya temen bilang bukunya kayaknya bagus. Pas beli ga expect apapun, ceritanya tentang apa juga aku gatau. Akhirnya mulai baca sekitar awal Februari. Itu pun perkembangannya lelet banget kayak siput, paling sehari 1-3 lembar udah keburu capek dan ngantuk. Sebenernya aku kesel juga sih kenapa gabisa fokus baca, kayak waktu masih abg dulu. Sempet mikir jelek ini semua gara-gara smartphone. loh? Oke abaikan.

Aku putuskan akhir Februari ngebut baca si kasam ini. Dari halaman masih puluhan dikebut sampe selesai dalam 3 malam. Dan ini baru aja selesai tepat sebelum aku post tulisan ini. Jadiiiiiiiiiiii, aku tulis aja sekarang sebelum hilang sudah semua sensasi cerita yang aku dapet.

Menurut aku, kisah percintaan di buku ini sangat jarang diangkat terutama profesi si tokoh utama. Di buku ini seorang laki-laki muda bekerja sebagai pengemudi sepit atau yang dalam bahasa inggris speed atau yang sering kita tau perahu kecil, bernama Borno. Dengan latar Pontianak buku ini berkisah mengenai Borno seorang laki-laki berpikiran lurus dan berhati luas jatuh cinta dengan seorang gadis “sendu menawan” bernama Mei. Borno jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mei karena mereka selalu bertemu sebagai pengemudi-penumpang.

Entah mengapa, aku berpikir dipertengahan cerita mudah sekali menebak alur ceritanya. Bagai sepemikiran dengan Tere Liye, bagaimana aku menebak ketika Bapak Andi tertipu setelah membeli bengkel. Bagaimana Mei meninggalkan Borno karena merasa bersalah akan suatu hal. Bagaimana pada akhirnya Borno tetap setia menunggu Mei yang pergi ke Surabaya.

Tapi, dari buku ini banyak sekali kata-kata romantis, petuah-petuah bijak dari Pak Tua. Terkadang, membuat keki Borno. Yang paling aku ingat ketika Andi dan Borno mogok bicara karena kesalahan yang sengaja diperbuat masing-masing. Pak Tua berkata sahabat sejati lah orang yang dapat melakukan segala hal, tapi kita tidak bisa marah. Jujur saat baca buku ini idolaku itu Pak Tua. Entah aneh betul, Pak Tua sudah habis asam-garam kehidupan jelas petuah hidup beliau aslinya,tapi Pak Tua yang tidak menikah sampai tua tapi bisa berpetuah tentang cinta. hmm…

Buku ini sangat manis dibaca. Walaupun aku agak ragu dengan akhir kisah Mei dan Borno.

Ditulis dengan buru-buru sadar nulis gajelas, kemungkinan di revisi, tapi gatau kapan.

halona blck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!