Book

Review Laut Bercerita – Laila S. Chudori

Image result for Leila s chudori laut bercerita

 

Judul                       : Laut bercerita
Pengarang             : Laila S. Chudori
Penerbit                 : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit          : 2017, cet. 1
Jumlah halaman   : 379 halaman

 

“Aku hanya ingin kau paham, orang yang suatu hari berkhianat pada kita biasanya adalah orang yang tak terduga, yang kau kira adalah orang yang mustahil melukai punggungmu” – Bram, hal. 31.

 

Laut Bercerita merupakan buku Laila kedua yang saya baca setelah kumpulan cerpen ‘Malam Terakhir’. Kebetulan saya ini penggemar meminjam buku di aplikasi iPusnas (dalam bentuk e-book) dan sering melihat karya Laila ini disana. Akhirnya saya memutuskan untuk meminjam buku tersebut setelah menunggu antrian sekitar 2 hari (waw banyak juga yang tertarik dengan buku ini, batin saya). Kebetulan, saya adalah orang yang tidak pernah berangan-angan apapun ketika akan membaca atau membeli sebuah buku, tidak pernah sekalipun membayangkan isinya seperti apa, tipe orang yang seperti saya ini tidak mudah patah perasaannya ketika buku yang dibaca ternyata tidak baik karena tidak mencapai ekspektasi, dan bisa sangat terpukau bila buku yang dibaca sangat bagus sekali. Saya mengapresiasi tinggi setiap tulisan.

Laut Bercerita, saya mengira buku ini menceritakan tentang kehidupan laut atau semacamnya, bercerita tentang laut secara harfiah yang berarti kumpulan air asin (dalam jumlah yang banyak dan luas) yang menggenangi dan membagi daratan atas benua atau pulau (KBBI). Tapi ternyata ini lain, ini berbeda. Laut Bercerita mengisahkan tentang seorang aktivis muda bernama Biru Laut, seorang mahasiswa sastra inggris UGM. Latar belakang novel ini ada pada masa sejarah yang identik dengan penculikan mahasiswa/aktivis yang dianggap sebagai penganut paham kiri yang mampu menggulingkan kekuasaan. Tidak hanya Laut, banyak sekali mahasiswa lain yang seperjuangan dengan Laut yang juga masuk sebagai tokoh penting seperti Kinan sang ketua yang keputusannya rasional dan tidak pernah gentar, Gala yang kerap kali dipanggil Sang Penyair yang mampu menggambarkan situasi dengan sajak-sajak ataupun puisi, Alex, Daniel, Naratama, Bram, Gusti, Anjani, dan masih banyak lagi yang tergabung dalam organisasi Winarta dan Wirasena.

Alur yang disajikan alur maju dan mundur, tapi tidak membuat saya bingung ketika membacanya, malahan saya merasa alur di buku ini membuat jantung saya meloncat adegan-adegan persembunyian atau ketika para tokoh melakukan kegiatan diam-diam membuat saya seperti berada dalam buku tersebut. Bahkan saya tertawa sampai hampir menangis saat kawan Laut mengeluarkan dialog yang lucu (menurut saya yang receh ini). Diakhir cerita saya sukses menangis, tak bisa menahan tangis karena betul-betul penggambaran situasi dan perasaan yang Laila paparkan sangat dalam. Saya bisa merasakan bagaimana menjadi seorang mahasiswa masa itu, ataupun bagaimana perasaan keluarga para mahasiswa yang selalu berharap-cemas setiap hari, bahkan detik karena situasi politik yang panas.

Menceritakan kisah para korban Desaparadisos (penghilangan orang secara paksa), yang diadili sepihak dengan tidak berperikemanusiaan. Dibagian ini saya cukup ngeri membayangkannya, apabila saya ada pada posisi itu, apa mungkin saya akan menjadi seperti mereka berani menyuarakan kebenaran. Sebenarnya saya tidak banyak mengerti mengenai sejarah 1998 kala itu, tapi novel berlatar belakang sejarah adalah yang terbaik, mungkin saya tidak akan menceritakan lebih dalam mengenai kisah tersebut.

Sesal, saat membaca ini saya menebak siapakah ulat sebenarnya dalam kelompok siapa yang akan berkhianat dalam kehidupan ini? cielah tapi dugaan saya salah. Setelah melakukan persembunyian kesana kemari, beberapa anggota dinyatakan hilang dan Asmara beserta keluarga korban hilang lainnya berusaha mencari keberadaan para keluarga yang hilang. Sungguh menguras emosi, bagaimana rasa kehilangan Asmara digambarkan dan bagaimana kondisi keluarga setelah ditinggalkan.

Novel ini tidak menggunakan bahasa yang berat, jadi kata per kata yang ditulis tidak membuat kita berpikir dua kali. Walaupun ini fiksi, namun Laila menjelaskan beliau melakukan riset dari sumber-sumber yang pernah berada pada situasi itu. Sampai akhirnya novel ini membawa saya membaca “Di Kuil Penyiksaan Orde Baru” dan mencari-cari profil korban yang sebenarnya. Apakah Mas Gala yang disebut Sang Penyair ini merupakan penggambaran lain dari Widji Thukul? Saya pun bertanya-tanya. Sebuah novel fiksi yang luar biasa.

Oya, ternyata ada wujud film pendek dari novel ini. Pemerannya Reza Rahardian, kalian bisa lihat behind the scenenya disini ya.

 

 

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *