Life

Cerita tentang firasat : menjelang hari pernikahan kawan

Pixabay by rawpixel

Hai semuanya, banyak yang bilang September ceria. Selamat september bagi penikmat ceker…

Karena blog saya ini tidak berniche apapun, cenderung gado-gado jadi boleh dong kalau saya sisipkan curhatan disini. Sebenarnya ada pelajaran yang dapat diambil dari cerita ini, namun kebanyakan sih curahan hati. Ingat ya isinya curahan hati, jangan menyesal sudah membaca.

Jadi, hari ini adalah hari pernikahan kawan akrab saya sejak sekolah menengah atas. Tentunya karena hubungan pertemanan kami dan jarak rumah kami berbanding lurus, sangat dekat. Pasti saya ingin memberikan yang terbaik untuknya.

Sebagai seorang kawan, menawarkan bantuan adalah hal yang biasa bukan? apalagi membantu mempersiapkan hari bahagianya. Karena kesibukan yang berbeda, saya hanya mampu menemaninya mengantar undangan pada wali kelas kami dahulu. Lalu mengapa tulisan ini berjudul cerita tentang firasat?.

Hari itu hari sabtu, kami berjanji bertemu selepas Ashar berangkat dari rumah saya. Biasanya saya yang datang kerumahnya jika ingin kemana-mana tapi hari itu berbeda, dia yang menjemput saya. Mungkin karena ia tidak enak karena telah meminta bantuan hahaha. Setelah shalat ashar kami pun berangkat ketempat tujuan yang sepertinya hanya 3km, iya cukup dekat.

Sebelum berangkat rasanya ada perasaan yang mengganjal di hati saya, seperti ingin tidak pergi tapi harus berangkat (bukan malas ya). Perasaan tidak enak lah pokoknya. Saya pun menyampaikan kegundahan hati saya kepada kawan saya tersebut. Tapi kami tanggapi dengan tertawa saja, maklum kami ini cengengesan. Saya yang mengendarai motor dan kawan saya di belakang.

Sebelum ke tempat tujuan utama kami mampir ke rumah tamu undangan yang lain, sekitar 2 rumah. Setelah itu lanjut ke rumah wali kelas kami, tidak mungkin kan hanya memberikan undangan saja. Pasti kami berbincang dulu, sopan santun bertamu kepada yang lebih tua. 30 menit kami berbincang-bincang akhirnya kami pamit pulang. Tidak lupa berfoto selfie serta diberi nasihat konon perempuan yang ingin menikah harus berhati-hati tidak boleh membawa motor (ah mungkin karena itulah saya yang di depan). Kami pun iya iya saja karena saya pun sangat berhati-hati wkwk.

Tragedi pun terjadi, entah bagaimana bisa perhitungan saya salah saat saya akan naik ke aspal dari trotoar ban motor kami terselip dan akhirnya kami terjatuh. Situasi saat itu sedang macet dan saya cukup trauma karena celana jeans saya sobek di bagian lutut dan meninggalkan bekas luka. Tidak apa kalau saya, untung sekali teman saya tidak lecet sedikit pun kuasa Allah. Secara seminggu kemudian dia akan menikah, pasti sangat tidak nyaman jika mempunyai luka walaupun sudah kering karena mampu mengurangi aktifitas. Saya akan sangat merasa bersalah jika hal lebih buruk terjadi kepada kawan saya.

Alhamdulillah Allah masih baik, memberikan kami kesehatan sampai hari ini hingga kawan saya dapat tersenyum di pelaminan dengan rentetan sesi foto haha dan saya mampu datang ke pernikahan kawan saya pun bisa menulis cerita ini. Walaupun perasaan saya pun masih tidak enak sudah membuat calon pengantin kaget karena jatuh dan bonus membuat motornya lecet. Rasanya ingin menangis. Hari ini pun setelah berfoto di pelaminan mereka saya ingin menangis ingat kejadian jatuh. huhu.

Disini saya jadi belajar terkadang saya atau kalian juga pasti pernah merasakan hal yang sama. Merasa sesuatu akan terjadi, rasa yang tidak seperti biasanya. Bukan berarti bisa meramal masa depan atau punya indra keenam haduuuh enggak deh, tapi sepertinya memang itu sifat alami manusia. Menerut saya kebetulan saat itu saya sedang tidak fokus jadi memiliki kepekaan terhadap sesuatu, berarti alam bawah sadar saya sudah mengingatkan saya untuk lebih fokus dalam mengendarai motor.

Bisa jadi ini teguran untuk saya. Ibu saya sering memperingatkan saya untuk tidak berkendara diantara trotoar dan pinggir aspal karena perbedaan tinggi yang cukup signifikan mampu membuat ban selip dan terpeleset. Tapi ya namanya saya bandel dan merasa aman karena sudah biasa (tidak boleh ditiru). Akhirnya pun terjadi hal yang sudah di wanti-wanti. Sekarang saya cukup trauma, serta makin selalu mengingat nasihat ibu.

Pixabay by nastya_gepp

Tapi kebanyakan saya mengabaikan perasaan tersebut ‘ah hanya perasaan aja’ begitu batin saya berkata kadang-kadang. Kedepannya saya akan mengikuti apa yang saya rasakan dengan memikirkan dengan baik apa yang akan terjadi kedepannya dengan mempertimbangkan segala hal. Hal ini sangat umum yah, anak smp baru masuk aja pasti tau. Namun, teori itu hal mudah yang sulit itu penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga saya dan kalian tidak mengabaikan peringatan-peringatan dari diri kita sendiri untuk berhati-hati dalam melakukan segala hal. Selain itu, selamat ya kawan di hari berbahagia mu (tidak menyertakan foto pernikahannya ya, memangnya ini instagram hahaha).

 

7 Comments

  • Tuteh

    Saya pernah mengalaminya, dan lantas terbahak-bahak. Gara-gara itu, jarak yang terlalu tinggi antara tanah dan trotoar (di kkompleks perumahan) hingga saya dan teman nyungsep ke bonsai. Tapi tanpa firasat sih 😀 hehehe. Semoga pernikahan temannya langgeng selalu yaaaa … Amin.

  • vani

    Kadang2 kalau terlalu diwanti2 malah kejadian ya. Kayaknya badan itu malah ngebawa2 ke yg nyerempet2 bahaya kalau was2. Tapi mudah2an nggak terus seperti itu seumur hidup… bisa hidup nggak tenang terus.

    Oya gimana jadinya plugin jetpacknya mba? Ga jadi diinstal ya? Kalau ada yg mau nanya2 ke saya silakan aja, kalau ada yg bisa sy bantu nanti sy bantuin.

    • ahalona

      iya mbak semacam sugesti gitu, kan apa yang kita pikirkan nanti itu yang akan terjadi. Amiin mudah-mudahan ga berpikiran jelek terus

      wah asiiikkk terimakasih sekali mbak tawarannya, banyak sekali yang saya kurang ngerti di dunia blog ini hehehe. Sampai sekarang belum saya coba lagi mbak plugin itu, pake google analytics saja walaupun masih agak kurang ngerti.

    • ahalona

      waduh begitukah mbak? saya baru tau.
      wah degdegan juga dong mbak dulu hehee, semoga mbak dan keluarga selalu diberi kesehatan ya mbak. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *